Senin, 01 Desember 2014

MAKALAH KEPEMIMPINAN



KATA PENGANTAR

       Dengan memanjatkan puji serta syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul Kepemimpinan Orde Baru
      Kami menyadari bahwa di dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,  kami  telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki sehingga dapat selesai dengan baik, dan oleh karena itu dengan rendah hati, kami  berharap kepada pembaca yang budiman untuk memberikan masukan, saran dan kiritik yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini.
     Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
                                                           
Subang, 01 Desember 2014


                                                                                                                            Penulis
                                                                                                                       Kelompok  3




i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ...................................................................................................................i
Daftar Isi  .............................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang ............................................................................................ …………1
1.2   Rumusan Masalahan......................................................................................................3
1.3    Tujuan Penulisan  .........................................................................................................3
BAB II. KERANGKA TEORI
2.1        Teori Kepemimpinan...........................................................................................................4
2.2    Teori Gaya Kepemimpinan……………………………………………………….......5
BAB III. PEMBAHASAN
3.1   Gaya Kepemimpinan Masa Orde baru   ...........................................................................8
3.2   Keberhasilan dan kegagalan gaya kepemimpinan orde baru…………………….....9
BAB IV. PENUTUP
4.1   Kesimpulan   .......................................................................................................................15
4.2   Saran ....................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................16



ii
MAKALAH
KEPEMIMPINAN ERA ORDE BARU
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah kepemimpinan
Di susun oleh:
Friska Renawati S       : AIB.11.0406
Nunung Nurjanah       : AIB.110410
FAKULTAS ADMINISTRASI BISNIS
UNIVERSITAS SUBANG
2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia. Saat ini, kita butuh pemimpin yang berorientasi kepada kepentingan, kemajuan, dan kejayaan bangsa dan negara, bukan kepada kepentingan pribadi/kelompok, bukan untuk melanggengkan kekuasaan kelompok, dan bukan pula kepemimpinan yang membiarkan hidupnya budaya anarkhisme, budaya kekerasan, dan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Kita butuh, pemimpin berwawasan kebangsaan, pemimpin Pancasilais, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan UUD Negara RI Tahun 1945, serta memahami karakter dan kultur bangsa Indonesia.
Pemimpin dan kepemimpinan masa depan yang integratif harus memiliki pola pikir, pola sikap dan pola tindak sebagai negarawan. Makna dari negarawan adalah seorang pemimpin yang diharapkan mampu mengubah kondisi saat ini melalui proses untuk menciptakan kondisi yang diharapkan dalam rangka mencapai tujuan nasional dan mewujudkan cita-cita nasional. Pemimpin akan dapat melaksanakan fungsi kepemimpinan-nya dengan efektif, apabila ia diterima, dipercaya, didukung serta dapat diandalkan. Seorang pemimpin harus memiliki reputasi yang baik, menunjukkan kinerja yang diakui,  terutama dalam mengantisipasi tantangan-tantangan di depan dan keberhasilannya mengatasi masalah masalah yang kritikal dan membawa kemajuan-kemajuan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal tersebut tergantung pada gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh setiap pemimpin. Gaya kepemimpinan yang tepat akan membawa sebuah bangsa ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, diperlukan pembahasan lebih lanjut tentang gaya kepemimpinan nasional Indonesia. Hal ini diperlukan sebagai bahan evaluasi untuk melihat gaya kepemimpinan seperti apa yang sesuai dengan bangsa Indonesia.
Kepemimpinan di Indonesia tentunya tidak akan pernah jauh dari masa kepemimpinan Soeharto. Rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto mampu berkuasa di Indonesia selama kurang lebih 32 dan akhirnya tumbang. Kepemimpinan Soeharto berlangsung selama Indonesia berada di zaman pembangunan. Soeharto menerapkan Demokrasi Pancasila selama periode kepemimpinannya.
Pada masa demokrasi Pancasila pada kepemimpinan Soeharto, Stabilitas keamanan sangat dijaga sehingga terjadi pemasungan kebebasan berbicara. Namun tingkat kehidupan ekonomi rakyat relatif baik. Hal ini juga tidak terlepas dari sistem nilai tukar dan alokasi subsidi BBM sehingga harga-harga barang dan jasa berada pada titik keterjangkauan masyarakat secara umum. Namun demikian penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) semakin parah menjangkiti pemerintahan. Lembaga pemerintahan yang ada di legislatif, eksekutif dan yudikatif terkena virus KKN ini. Selain itu, pemasungan kebebasan berbicara ternyata menjadi bola salju yang semakin membesar yang siap meledak. Bom waktu ini telah terakumulasi sekian lama dan ledakannya terjadi pada bulan Mei 1998. Selepas kejatuhan Soeharto, selain terjadinya kenaikan harga barang dan jasa, instabilitas keamanan dan politik serta KKN bersamaan terjadi sehingga yang paling terkena dampaknya adalah rakyat kecil yang jumlahnya mayoritas dan menyebabkan posisi tawar Indonesia sangat lemah di mata internasional akibat tidak adanya kepemimpinan yang kuat.
Resesi ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 juga sebagai salah satu akibat dari kepemimpinan Soeharto. Kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Soeharto sejak kepemimpinannya sama sekali hanya mementingkan kaum kapitalis dan dirinya sendiri. Juga dalam kepemimpinannya Soeharto memaksakan rakyat Indonesia untuk tidak terlibat dalam segala bentuk kegiatan politik. Depolitisasi yang dilakukan oleh Soeharto bahkan menjalar hingga ke tingkatan kampus dengan program NKK/BKK. Dengan ini mahasiswa dipaksa untuk terlibat aktif dalam kegiatan di dalam kampusnya sendiri dan meninggalkan basis massa rakyat yang merupakan tempat pengabdiannya setelah menjadi seorang sarjana.
I. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana gaya kepemimpinan masa Orde Baru (rezim Soeharto) ?
2.      Keberhasilan dan kegagalan yang dihasilkan dari gaya kepemimpinan Soeharto ?
I. 3 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gaya kepemimpinan masa Orde Baru (rezim Soeharto), keberhasilan dan kegagalan yang dihasilkan dari gaya kepemimpinan Soeharto dan untuk memenuhi tugas mata kuliah kepemimpinan. 
           






BAB II
KERANGKA TEORI

2.1   Teori Kepemimpinan
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan konsep-konsep yang sangat universal sifatnya. Fenomena pemimpin (leader) dan kepemimpinan (leadership) dapat ditemukan di seluruh dunia dalam kehidupan kekeluargaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Pemimpin dan kepemimpinan biasanya terdapat dalam struktur organisasi formal, dari yang ukurannya terkecil seperti keluarga sampai dengan yang ukurannya terbesar seperti negara dan organisasi negara-negara. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama.  Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun, menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang yang telah mencoba mendefinisikan konsep kepemimpinan tersebut. Namun demikian, semua definisi kepemimpinan yang ada mempunyai beberapa unsur yang sama.
Sarros dan Butchatsky (1996), "leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good". Menurut definisi tersebut, kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
Menurut Kartini Kartono, dalam organisasi dimana terdapat situasi bekerjasama diantara orang-orang di dalamnya maka dibutuhkan adanya pemimpin dan kepemimpinan[1]. Konsep-konsep pemimpin dan kepemimpinan selalu berkaitan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan. Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas, dan legalitas yang memberi wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu. Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga orang mampu mbawani atau mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh kepada pemimpin dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan, dan kecakapan / ketrampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi kemampuan orang yang dipimpin[2]. Kepemimpinan mencakup pengetahuan dan ketrampilan yang mempengaruhi dan mengarahkan kegiatan orang-orang lain[3].
2.2 Teori Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dalam teori-teori behavioral, oleh para ahli dibedakan menurut perilaku atau tindakan yang dilakukan pemimpin dalam mempengaruhi bawahan menuju pencapaian tujuan organisasi. Salah satu teori klasik gaya kepemimpinan, yakni yang dikembangkan oleh Likert (1961), membedakan gaya kepemimpinan menjadi empat, yaitu ”exploitative-authoritative”, “benevolent-authoritative”, “consultative”, dan “participative”. Menurut Likert, gaya kepemimpinan berada suatu kontinuum, dapat bergerak dari yang berorientasi pada tugas dampai dengan yang berorientasi pada hubungan dengan staf[4]. Gaya kepemimpinan, menurut Varaki, merupakan pola perilaku yang digunakan seorang pemimpin dalam mengarahkan orang lain untuk melaksanakan pekerjaan. Pola perilaku tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni perilaku yang berorientasi pada hubungan, atau pada pekerjaan, atau kombinasi keduanya[5].
Dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang cocok untuk penerapannya dan dampaknya pada iklim organisasi, gaya kepemimpinan menurut Daniel Goleman dapat dibedakan menjadi enam, yaitu coercive, authoritative, affiliative, democratic, pacesetting, dan coaching. Gaya kepemimpinan coercive memiliki ciri-ciri perilaku atau tindakan pemimpin yang menuntut ketaatan segera, dengan perintah: “Kerjakan apa yang saya katakan”, yang dilandasi kompetensi intelegensi emosional untuk mencapai tujuan, inisiatif, dan kontrol diri. Gaya ini paling cocok diterapkan dalam situasi krisis, untuk tujuan melakukan perbaikan-perbaikan, atau pada saat terjadi masalah karyawan. Dampaknya pada iklim organisasi biasanya negatif.
Gaya kepemimpinan authoritative ditandai dengan tindakan pemimpin memobilisasi anggota-anggota organisasi pada suatu visi, dengan ajakan: “Mari bersama saya”,  yang dilandasi kompetensi intelegensi emosional penuh percaya diri, empati, dan katalis terhadap perubahan. Gaya kepemimpinan ini paling cocok diterapkan ketika perubahan-perubahan memerlukan adanya visi baru, atau ketika arah baru diperlukan. Dampak penerapannya terhadap iklim organisasi paling positif.
Gaya kepemimpinan affiliative ditandai dengan tindakan pemimpin menciptakan harmoni dan membangun ikatan-ikatan emosional, dengan pedoman “Masyarakat atau publik yang dilayani adalah lebih penting”, yang dilandasi kompetensi intelegensi emosional penuh empati, membangun hubungan, dan komunikasi. Paling cocok diterapkan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan pada tim atau untuk memotivasi anggota tim dalam kondisi penuh tekanan. Dampak penerapannya pada iklim organisasi positif.
Gaya kepemimpinan democratic ditandai dengan perilaku pemimpin yang mendorong pembentukan konsensus melalui partisipasi, dengan pertanyaan khas “Bagaimana pendapat Saudara?”, dan dilandasi kompetensi intelegensi emosional kolaborasi, kepemimpinan tim, dan komunikasi. Gaya ini paling cocok diterapkan untuk mendapatkan dukungan atau membentuk konsensus, atau untuk mendapatkan masukan dari karyawan yang dianggap penting. Dampak penerapannya pada iklim organisasi bersifat positif.
Gaya kepemimpinan pacesetting ditandai dengan tindakan pemimpin menetapkan standar kinerja yang tinggi, dengan perintah “Kerjakan seperti yang saya lakukan, sekarang”, dan landasan kompetensi penuh kesadaran, semangat untuk mencapai tujuan, dan inisiatif. Paling cocok diterapkan bila diinginkan hasil kerja secara cepat dari tim yang memiliki motivasi tinggi dan kompetensi. Dampak penerapannya pada iklim organisasi biasanya negatif. Sedangkan gaya kepemimpinan coaching ditandai dengan perilaku pemimpin membina karyawan demi masa depan, dengan permintaan khas “Cobalah ini”, dan landasan kompetensi mengembangkan orang lain, empati dan kesadaran diri. Paling cocok diterapkan untuk membantu karyawan meningkatkan kinerja atau membangun kekuatan jangka panjang. Dampak penerapannya pada iklim organisasi bersifat positif





BAB III
PEMBAHASAN

3.1                                                                                                                                                                                                                      Gaya kepemimpinan masa orde baru (Rezim Soeharto)
Ketika berbicara tentang gaya kepemimpinan Rezim Orde Baru atau yang biasa dikenal dengan Orba memang identik dengan dengan gaya kepemimpinan Soeharto yang cenderung Otoriter/militeristik, ini dikarenakan Rezim Orde Baru yang berkuasa selama tiga puluh dua tahun memang dipimpin oleh Soeharto sebagai pemegang tampuk kekuasaan tunggal pada saat itu. Soeharto memiliki latar belakang militer dalam karir politiknya. Sehingga ketika ia menjadi presiden, ia tidak dapat melepaskan diri dari gaya-gaya kepemimpina ala militer.
        Siapa yang tak kenal dengan mantan Presiden Soeharto, penguasa Indonesia selama 32 tahun ini, terkenal dengan gaya kepemimpina yang otoriter , militeristik, ambisius namun murah senyum sekaligus. Pada tahun 1998 desakan dari berbagai kalangan-utamanya mahasiswa-telah mampu memaksa Soeharto untuk lengser keprabon. Tapi kenyataannya bahwa peralihan legal formal tidak dengan sendirinya mengalihkan seluruh sumber daya kekuasaan. Rezim yang dikenal dengan sebutan Orde Baru ini, telah merasuk ke seluruh sumsum masyarakat. Kekejaman yang menebar ketakutan hingga tak ada yang berani membantahnya. Kekuasaan Soeharto kala itu mutlak disegala lini. Militer menjadi anak emas yang memagari kekuasaannya. Pers lebih banyak menjadi corong pemerintah, sehingga praktis masyarakat pun buta politik. Masyarakat tak mampu mencerna kebohongan – kebohongan yang dilakukan Soeharto. Karena selalu saja tertutupi oleh tindak – tanduk Soeharto yang kalem, bersahaja dan nampak sederhana. Kroni – kroni orde baru, telah berhasil menyebarkan virus SARS ( Sangat Amat rindu Soeharto) menjelang pemilu 2004 lalu.
        Di awal kepemimpinannya, ketika situasi dalam negeri sedikit-banyak mengalami kekacauan akibat intrik-intrik politik dari berbagai kelompok kepentingan, misalkan Partai Komunis Indonesia, bisa jadi kepemimpinan model militer adalah yang tepat. Situasi yang darurat, anomali sosial begitu banyak, maka situasi semcam itu perlu distabilkan agar tidak berdampak lebih buruk. Dapat kita lihat bahwa fungsi militer pada masa Orde Baru adalah sebagai stabilisator juga dinamisator. Dengan dua fungsi itu, militer atau tepatnya ABRI dengan dwifungsinya ikut terlibat dalam penyusunan kebijakan-kebijakan politik Orde Baru.
Sayangnya, model kepemimpinan ala militer itu tetap Soeharto pakai hingga era 1970-1980an. Padahal kondisi masyarakat saat itu sedikit-banyak sudah berubah. Masyarakat semakin cerdas dan semakin paham tentang hakikat negara demokratis. Dengan sendirinya model kepemimpinan Soeharto tertolak oleh kultur atau masyarakat. Untuk tetap mempertahkan kekuasaanya Soeharto menggunakan cara-cara represif pada semua pihak yang melawannya.
Setelah membaca penjelasan diatas, tentu dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan Rezim Orde Baru ( Soaharto ) adalah Otoriter/militeristik.
3.2 Keberhasilan yang Dihasilkan Dari Gaya Kepemimpinan Soeharto       
        Walaupun terdapat berbagai kekurangan dari pemerintahan Soeharto tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa pemerintahan Soeharto Indonesia menjadi salah satu negara kaya dan disegani negara lain. Kelebihan
1.      Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
2.      Kemajuan sektor migas
            Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama dengan 80% ekspor Indonesia. Dengan kebijakan itu, Indonesia di bawah Orde Baru, bisa dihitung sebagai kasus sukses pembangunan ekonomi.
            Keberhasilan Pak Harto membenahi bidang ekonomi sehingga Indonesia Mampu berswasembada pangan pada tahun 1980-an, menurut Emil Salim, diawali Dengan pembenahan di bidang politik. Kebijakan perampingan partai dan penerapan Azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru, dilatari pengalaman masa Orde Lama Ketika politik multi partai menyebabkan energi terkuras untuk bertikai.
      Gaya kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan Suharto pada masa Orde Baru memang dibutuhkan untuk membenahi perekonomian Indonesia yang berantakan di akhir tahun 1960. Namun, dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan Orde Baru kemudian tidak diberi tempat.
3.      Swasembada beras
            Seperti pepatah From Zero to Hero itulah kebijakan yang dilakukan oleh HM. Soeharto pada masa pemerintahannya. Saat itu Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar didunia, namun oleh Soeharto ini dijadikan motivasi untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung beras dunia. Puncaknya adalah ketika pada 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Prestasi itu membalik kenyataan, dari negara agraria yang mengimpor beras, kini Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri. Pada tahun 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton beras tetapi tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton.
4.      Sukses transmigrasi
5.      Sukses Program  KB
6.      Sukses memerangi buta huruf
7.      Sukses swasembada pangan
8.      Pengangguran minimum
9.      Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
10.  Sukses Gerakan Wajib Belajar
11.  Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
12.  Sukses keamanan dalam negeri
13.  Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia.
3.3 Kegagalan Dari Gaya Kepemimpinan Soeharto            
·         Politik
Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Ini merupakan langkah awal dari ketergantungan Indonesia terhadapa modal asing.
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.
Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.
·         Eksploitasi sumber daya
Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an.
·         Diskriminasi terhadap Warga Tionghoa
Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia. Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah.
Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan. Orang Tionghoa dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.
·         Perpecahan bangsa
Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang disertai sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.
Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam bentuk konflik Ambon dan konflik Madura-Dayak di Kalimantan. Sementara itu gejolak di Papua yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para transmigran.
·         Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
·         Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
·         Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
·         Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius" (petrus)
·         Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)

BAB IV
                                                  PENUTUP        
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah gaya kepemimpinan orde baru (rezim Suharto) secara umum adalah otoriter, dominan, dan sentralistis . Hal ini ditandai dengan pemimpin yang menunjukan sikap menonjolkan “keakuannya”, antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.         Kecendurangan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan maratabat mereka.
2.         Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
3.         Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

4.2 Saran
            Dari uraian di atas, saran yang dapat kelompok kami berikan untuk kepemimpinan orde baru adalah :
·         Kembali kepada sistem demokrasi yang ada di Indonesia yang mana setiap warga negara berhak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan
·         Tidak berfokus hanya kepada bidang ekonomi tetapi juga di semua sektor.

           

DAFTAR PUSTAKA
Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan. Cetakan Kesembilan  (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001).
Roeder, O.G., Anak Desa Biografi Presiden Soeharto, Jakarta: Gunung Agung, Cet.5, 1984.
Husaini, Adian, Soeharto 1988, Jakarta: Gema Insani Press, 1996
EMAIL: achmad avandise@gmail.com..Manajamen Kepemimpinan 15.ED/LU 2013-2015 usbrj











Tidak ada komentar:

Posting Komentar